Archive for the ‘AQIDAH’ Category

TAWAKAL

Tawakal kepada Allah sudah pasti merupakan kekuatan yang mendorong seorang hamba dapat hidup bahagia. Ketika ia beriman, tawakalnya kepada Allah akan mewujudkan semua permintaan dan keinginannya. Maka, ia tidak merasa ada keraguan dalam berusaha mendapatkan keinginan dan kebutuhan tersebut. Hal ini terjadi karena jiwa ketika ingin beramal membutuhkan kekuatan pendorong dari dalam dirinya. Bukankah kita lihat, seseorang yang sedang menghadapi kejadian atau keadaan yang tidak biasa terjadi akan tampak perasaan, pikiran dan aneka ragam kekuatan mendorongnya untuk menghadapi kejadian tersebut, sehingga kelelahannya lebih besar daripada kelelahan menghadapi keadaan dan kejadian biasa.

Apabila seorang  hamba bertawakal kepada Allah dengan benar-benar ikhlas dan terus mengingat keagungan Allah, maka perasan dan pikirannya serta seluruh kekuatannya semakin kuat mendorongnya melaksanakan semua amalan apa saja meskipun memiliki resiko besar. Ambil sebagai contoh, Continue reading

Advertisements

KEYAKINAN

Bangsa yang besar adalah bangsa yang dapat mengambil pelajaran dari sejarahnya. Demikianlah dikatakan sebagian ahli hikmah. Satu ungkapan yang mengajak kita mengenal sejarah kejayaan umat islam yang pernah memenuhi suara dunia. Ternyata setelah melihat kepada penjelasan Rasulullah shallalllahu ‘alahi wa sallam yang berbunyi,

صَلاَحُ أَوَّلِ هَذِهِ الأُمَّةِ بِالزُّهْدِ وَ الْيَقِيْنِ وَ يَهْلِكُ آخِرُهَا بِالْبُخْلِ وَ الأَمَلِ .

“Kejayaan awal umat ini dengan sebab sikap zuhud dan yakin. Sedangkan kehancuran akhir umat ini dengan sebab kekikiran dan angan-angan.” (HR Al-Baihaqi dalam Syu’abul Imandan dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jaami‘ no. 3845)

Memang sikap yakin menjadi sebab kejayaan dan kesuksesan generasi awal umat ini.

Demikianlah realita yang ada, dahulu generasi awal umat ini dengan keyakinan mereka terhadap janji Allah dan ajaran Rasul-Nya shallalllahu ‘alahi wa sallam menggapai kejayaan dan menaklukan negeri-negeri kafir. Mereka rubah negeri-negeri tersebut menjadi negeri islam yang makmur dan aman. Namun, ketika umat ini sudah sibuk dengan angan-angan dan menjadi bakhil disebabkan cinta dunia dan takut mati, maka merekapun menjadi lemah dan tertindas. Continue reading

TAK SEKEDAR DI LISAN

Persepsi iman dalam syariat telah dijelaskan oleh kitabullah dan sunnah rosulullah. Secara global, salafussalih telah memberikan definisi dan patokan tentang iman, yakni suatu keyakinan dalam hati yang diucapkan dengan lisan dan direalisir dengan amalan anggota badan. Iamn dalam kacamata syar’I juga dapat mengalami pasang surut. Bertambah karena ketaatan dan berkurang lantaran perbuatan maksiat. Berikut paparan dalil-dalil yang menyatakan patokan iman

IMAN, KEYAKINAN HATI
Allah telah menyatakan dalam firmannya: “Orang-orang Arab badui itu berkata ‘kami telah beriman’. Katakanlah (kepada mereka) ‘kamu belum beriman, tapi katakanlah, kami telah tunduk’ karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu” (Alhujurat: 14)
Baiknya hati manakala ia dipenuhi dengan keyakinan-keyakinan benar. Ketika hati telah disirami dengan hakikat iman dan darinya tumbuh berkembang amalan-amalan yang baik, maka hati model ini adalah hati yang selamat.

IMAN, IKRAR LISAN
Setelahnya, iman tak cukup hanya dalam hati, namum seiring dengan itu, harus dibarengi dengan pengikraran melalui lisan (mulut). Rosulullah bersabda :”Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka mengatakan tidak ada sesembahan yang benar melainkan Allah…”(Hr. Muslim)
Dalam hadits tersebut disebutkan akan syarat dalam pengucapan syahadat yang menjadikan syahnya iman. Continue reading