Archive for the ‘AKHLAK’ Category

PINTU SYURGA PALING TENGAH

Ketika ibu dari Iyas bin Muawiyah wafat, Iyas meneteskan air mata tanpa meratap, lalu beliau ditanya tentang sebab tangisannya, jawabnya, “Allah bukakan untukku dua pintu masuk surga, sekarang, satu pintu telah ditutup.”

Begitulah, orangtua adalah pintu surga, bahkan pintu yang paling tengah di antara pint…u-pintu yang lain.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“ORANG TUA adalah PINTU SURGA YANG PALING TENGAH, terserah kamu, hendak kamu terlantarkan ia, atau kamu hendak menjaganya.” (HR Tirmidzi)

Al-Qadhi berkata,

” Maksud pintu surga yang paling tengah adalah pintu yang PALING BAGUS dan PALING TINGGI. Dengan kata lain, sebaik-baik sarana yang bisa mengantarkan seseorang ke dalam surga dan meraih derajat yang tinggi adalah dengan mentaati orangtua dan menjaganya.”

Bersyukurlah jika

Continue reading

Advertisements

Lihatlah Ke Bawah

Dunia dengan perhiasannya demikian menyilaukan . . .

Allah Subhanahu wa Ta’ala pun memberikannya kepada hamba yang dicintai-Nya dan kepada hamba yang tidak dicintai-Nya, sehingga kelebihan yang didapatkan seseorang dalam perkara dunia bukan jaminan ia dicintai oleh Dzat Yang di atas.Berapa banyak orang yang jahat, ingkar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam namun ia beroleh kekayaan dan jabatan yang tinggi. Sebaliknya, banyak hamba yang taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak beroleh dunia kecuali sekadarnya. Kenapa demikian? Karena memang dunia tiada bernilai di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala sampai-sampai kata Rasul yang mulia Shallallahu ‘alaihi wasallam:

لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللهِ جَنَاحَ بَعُوْضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ

Seandainya dunia ini di sisi Allah punya nilai setara dengan sebelah sayap nyamuk niscaya Allah tidak akan memberi minum seorang kafir seteguk air pun.” (HR. At-Tirmidzi, dishahihkan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Ash-Shahihah no. 940)

Tatkala Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam lewat di sebuah pasar sementara Continue reading

ANTARA PAHALA DAN DOSA

Segala puji bagi Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Salawat dan salam semoga tercurah kepada teladan kaum beriman Muhammad bin Abdullah, dan juga para pengikutnya yang setia kepada ajaran-ajarannya di saat suka maupun duka. Amma ba’du.

Sesungguhnya musibah dan bencana merupakan bagian dari takdir Allah Yang Maha Bijaksana. Allah ta’ala berfirman,

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Tidaklah menimpa suatu musibah kecuali dengan izin Allah. Barang siapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan berikan petunjuk ke dalam hatinya.” (QS. at-Taghabun: 11)

 Ibnu Katsir rahimahullah menukil keterangan Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma bahwa yang dimaksud dengan izin Allah di sini adalah perintah-Nya yaitu ketetapan takdir dan kehendak-Nya. Beliau juga menjelaskan bahwa barang siapa yang tertimpa musibah lalu menyadari bahwa hal itu terjadi dengan takdir dari Allah kemudian dia pun bersabar, mengharapkan pahala, dan pasrah kepada takdir yang ditetapkan Allah niscaya Allah akan menunjuki hatinya. Allah akan gantikan kesenangan dunia yang luput darinya -dengan sesuatu yang lebih baik, pent- yaitu berupa hidayah di dalam hatinya dan keyakinan yang benar. Allah berikan ganti atas apa yang Allah ambil darinya, bahkan terkadang penggantinya itu lebih baik daripada yang diambil. Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma ketika menafsirkan firman Allah (yang artinya), “Barang siapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan menunjuki hatinya.” Maksudnya adalah Allah akan tunjuki hatinya untuk merasa yakin sehingga dia menyadari bahwa apa yang -ditakdirkan- menimpanya pasti tidak akan meleset darinya. Begitu pula segala yang ditakdirkan tidak menimpanya juga tidak akan pernah menimpa dirinya (lihat Tafsir al-Qur’an al-’Azhim [4/391] cet. Dar al-Fikr) Continue reading

WAHAI PENUNTUT ILMU

“…Sesungguhnya ketakwaan adalah asas kebaikan seorang penuntut ilmu dan tanda bahwa dia bisa mengambil faidah dari ilmu yang dipelajarinya. Karena termasuk sebab terbesar untuk merealisasikan pencarian ilmu syar’i yang shahih yang diambil dari al-Kitab dan as-Sunnah adalah takwa kepada Allah.

وَاتَّقُوا اللَّهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ

“Bertakwalah kamu kepada Allah, niscaya Allah akan memberikan ilmu kepadamu.” (al-Baqarah: 282)

Sebagian orang yang menisbatkan diri kepada ilmu — dan kita merasa khawatir termasuk ke dalamnya — menyia-nyiakan waktu dalam hal yang tidak berfaidah, seperti qiila wa qoola (isu, desas-desus) dan perkataan kosong yang bisa menjauhkan dari Allah dan mengeraskan hati. Engkau bisa mendapati banyak manusia yang hal ini menjadi kesibukan utamanya. Dan dia tidak melakukan shalat satu atau tiga rakaat di akhir malam, karena ada yang memalingkannya dari ketaatan kepada Allah.

Dia tidak menyadari bahwa dia ada di perantauan, berada di penyeberangan, hanya di tempat berlalu saja. Maka shalatlah seperti shalatnya orang yang akan berpisah (dengan dunia). Jadilah di dunia ini bagaikan orang asing atau orang yang berjalan. Jika kamu di waktu sore, jangan tunggu sampai esok. Jika kamu di waktu pagi, jangan tunggu sampai sore. Sibukkanlah waktumu dengan ketakwaan kepada Allah, penuhi waktumu dengan ketakwaan kepada Allah, seperti shalat, puasa, ilmu, dan membaca al-Quran. Sibukkanlah dirimu dengan cela yang ada padamu jangan menyibukkan diri dengan cela orang lain. Continue reading

KEDUDUKAN HATI

Seorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir tentu akan memperhatikan amalan-amalannya. Dia akan senantiasa berusaha memperbagus amalanamalannya, sehingga dia benar-benar ditulis oleh Allah sebagai orang yang bersyukur atas kenikmatan-kenikmatan yang telah diberikan kepadanya.

Maka ketahuilah, – semoga Allah senantiasa membimbing kita kepada kebaikan – bahwa semua kebaikan bergantung kepada hati yang ada dalam dada. Rasulullah SAW bersabda:

 “Ketahuilah, sesungguhnya dalam jasad ini ada segumpal daging, jika segumpal daging itu baik, maka seluruh jasad pun akan menjadi baik. Dan jika segumpal daging itu rusak, maka seluruh jasad pun akan menjadi rusak. Ketahuilah, bahwa segumpal daging itu adalah hati.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani Rahimahullah berkata,

“Beliau mengkhususkan hati dengan hal tersebut karena hati adalah Continue reading

SABAR DALAM COBAAN

Dunia adalah negeri cobaan. Manusia senantiasa diuji dan diberikan cobaan baik cobaan musibah atau cobaan kesenangan. Cobaan kesenangan dan kemudahan membutuhkan sikap bersyukur. Syukur atas nikmat kesenangan ini termasuk ketaatan yang juga membutuhkan kesabaran. Sehingga tidak bisa bersyukur kecuali dengan sabar dalam melaksanakan ketaatan.

Ibnul Qayyim menyatakan dalam kitab ‘Idatush Shabirin: Semua yang dijumpai seorang hamba didunia ini tidak lepas dari dua jenis; Pertama yang sesuai dengan hawa nafsu dan kehendaknya, dan kedua yang menyelisihinya. Ia butuh kepada sabar dalam keduanya. Adapun jenis yang sesuai dengan keinginannya seperti sehat, keselamatan, dapat jabatan dan harta serta beraneka ragam kelezatan yang mubah. Ini lebih butuh kepada sabar dari beberapa sisi,

1.  Tidak bergantung dan terpedaya dengannya serta tidak membuatnya sombong dan prilaku tercela yang tidak Allah sukai. Continue reading

BERKUMPUL DAN SENDIRI

Berjamaah, berkumpul bareng-bareng bisa menjadi sebuah kenangan manis bagi setiap kita. Cobalah misalnya saat iedul fitri tiba, betapa senangnya kita di saat seluruh keluarga besar yang terpisah jarak dan waktu bisa bertemu jadi satu. Begitu pula ketika kita bersama teman-teman berkumpul  bercerita dan bercengkrama ringan. Ada kegembiraan yang bisa ditemukan dalam kebersamaan tersebut. Bertemu walau Cuma sebentar dengan teman terkadang bisa menjadi pengobat kerinduan atau obat menyelipnya dugaan yang miring tentangnya. Berkumpul dan bercengkrama dengan teman sesame bukan sesuatu yang dilarang dalam Islam, selama tidak melanggar aturan-aturan yang digariskan oleh Islam.  Orang yang termulia yaitu Rasulullah pun bercengkrama dan berkumpul dengan para sahabat. Beliau mendengarkan kisah pengalaman para sahabat di masa jahiliyah. Para sahabat tertawa dan Rasulullah tersenyum mendengar penuturan lucu dari para sahabatnya tersebut.

Dalam Islam sendiri bisa menekankan beberapa aktivitas dan momen saling bertemu dan berkumpul ini. Misalnya Islam mensyariatkan kaum muslimin untuk berkumpul 5 kali sehari semalam dalam shalat jamaah di masjid. Ada lagi pertemuan yang lebih besar setiap pekannya yaitu dalam shalat Jumat. Dalam momen tahunan ada juga  saat kaum muslimin berkumpul dalam jumlah yang lebih banyak lagi, yaitu saat iedul fitri dan iedul adha. Ada juga momen yang minimalnya satu kali dilakukan oleh seorang, yaitu  ketika musim haji tiba. Meski demikian, tidak pada semua aktivitas mesti kita lakukan secara bersama dan rame-rame. Ada waktu-waktu tertentu bahkan yang kita dianjurkan untuk bersendirian, tidak bersama orang lain. Karena bagaimanapun pergaulan yang terlalu banyak akan memberikan dampak kesat dan kerasnya hati kita. Misalnya saja, waktu I’tikaf di masjid saat bulan ramadhan tiba. Itu adalah waktu kita untuk bersendirian, merenungi  dosa dan kesalahan, bermunajat dan bersendirian dengan Allah. Demikian pula waktu-waktu sepertiga malam terakhir, adalah waktu untuk sendiri beribadah pada Allah. Continue reading