BERKUMPUL DAN SENDIRI

Berjamaah, berkumpul bareng-bareng bisa menjadi sebuah kenangan manis bagi setiap kita. Cobalah misalnya saat iedul fitri tiba, betapa senangnya kita di saat seluruh keluarga besar yang terpisah jarak dan waktu bisa bertemu jadi satu. Begitu pula ketika kita bersama teman-teman berkumpul  bercerita dan bercengkrama ringan. Ada kegembiraan yang bisa ditemukan dalam kebersamaan tersebut. Bertemu walau Cuma sebentar dengan teman terkadang bisa menjadi pengobat kerinduan atau obat menyelipnya dugaan yang miring tentangnya. Berkumpul dan bercengkrama dengan teman sesame bukan sesuatu yang dilarang dalam Islam, selama tidak melanggar aturan-aturan yang digariskan oleh Islam.  Orang yang termulia yaitu Rasulullah pun bercengkrama dan berkumpul dengan para sahabat. Beliau mendengarkan kisah pengalaman para sahabat di masa jahiliyah. Para sahabat tertawa dan Rasulullah tersenyum mendengar penuturan lucu dari para sahabatnya tersebut.

Dalam Islam sendiri bisa menekankan beberapa aktivitas dan momen saling bertemu dan berkumpul ini. Misalnya Islam mensyariatkan kaum muslimin untuk berkumpul 5 kali sehari semalam dalam shalat jamaah di masjid. Ada lagi pertemuan yang lebih besar setiap pekannya yaitu dalam shalat Jumat. Dalam momen tahunan ada juga  saat kaum muslimin berkumpul dalam jumlah yang lebih banyak lagi, yaitu saat iedul fitri dan iedul adha. Ada juga momen yang minimalnya satu kali dilakukan oleh seorang, yaitu  ketika musim haji tiba. Meski demikian, tidak pada semua aktivitas mesti kita lakukan secara bersama dan rame-rame. Ada waktu-waktu tertentu bahkan yang kita dianjurkan untuk bersendirian, tidak bersama orang lain. Karena bagaimanapun pergaulan yang terlalu banyak akan memberikan dampak kesat dan kerasnya hati kita. Misalnya saja, waktu I’tikaf di masjid saat bulan ramadhan tiba. Itu adalah waktu kita untuk bersendirian, merenungi  dosa dan kesalahan, bermunajat dan bersendirian dengan Allah. Demikian pula waktu-waktu sepertiga malam terakhir, adalah waktu untuk sendiri beribadah pada Allah.

Enaknya bersama-sama dan rame-rame membuat banyak orang di negri ini senang dengan hal yang rame-rame dan enggan berpisah pada hal  yang seharusnya sendiri-sendiri. Bahkan ada pepatah yang sering diungkapkan oleh orang ‘mangan ra mangan sing penting kumpul’.  Berkumpul tak seluruhnya baik, demikian pula tak semuanya buruk. Dalam hal yang baik sah-sah saja kita berkumpul dan bersama. Namun dalam penyimpangan, dosa, dan kebid’ahan apa artinya berkumpul. Berkumpul dalam penyimpangan tersebut bahkan tidak dianjurkan bahkan dilarang oleh syariat.

Kapan Berkumpul dan Sendiri 
Menyendiri  tanpa bersama orang lain kadang juga perlu atau bahkan sangat perlu. Sudah disebutkan di muka  beberapa contoh aktivitas yang sebaiknya dilakukan secara individu bukan secara kolektif. Meski tentu lebih baik bagi kita untuk menyempatkan diri berkumpul bersama-sama dengan orang lain di suatu kondisi. Ibnu Qudamah Al Maqdisi membuat pembahasan tersendiri tentang masalah berkumpul dan sendiri ini. Manakah yang lebih baik antara berkumpul dengan sendiri atau yang sering diungkapkan dengan kata uzlah? Setiap kita bisa memilih manakah yang lebih tepat untuknya. Para ulama berbeda pendapat tentang permasalah ini. Sebagian ulama lebih memilih uzlah lebih baik. Diantara mereka adalah Sufyan Ats Tsauri, Ibrahim bin Adham, Dawud Ath Tha’I, Fudhail, dan Bisyr Al Hafi. Ada pula yang berpendapat bahwa bergaul dengan manusia lebih baik. Sa’id Ibnul Musayyib, Syuraih, Asy Sya’bi, dan Ibnul Mubarak diantara mereka yang berpendapat demikian. Sekian banyak dalil yang dipakai oleh kelompok pertama, diantaranya hadits yang disebutkan dalam as shahihain dari hadits Abu  Sa’id, ia berkata, “Rasulullah ditanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakan manusia terbaik?’ Jawab Nabi, “Orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya, dan seorang yang berada di salah satu jalan di pegunungan yang menyendiri untuk beribadah pada rabbnya dan meninggalkan  dan menjauhi dari kejelekan manusia”.

Sedangkan landasan  mereka yang menyatakan bergaul dan berkumpul dengan manusia lebih baik diantaranya adalah sabda Nabi, “Seorang mukmin yang bergaul dengan manusia dan bersabar terhadap gangguan mereka lebih baik daripada orang yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak bersabar dengan gangguan mereka.” (Riwayat At Tirmidzi, Al Bukhari dalam Al Adabul Mufrad, Ahmad dan Abu Nua’im serta disahihkan oleh Syaikh Al ALbani dalam Silsilah Ash Shahihah)

Yang pasti, tidak dalam setiap kesempatan kita harus bareng-bareng dan bersama orang lain, demikian pula sebaliknya tidak pada setiap kesempatan kita mesti sendiri. Sehingga sangat bijak bagi diri kita untuk memilih manakah saat yang tepat untuk berkumpul dan manakah saatvuntuk sendiri. Tidak tepat bila saatnya sendiri malah kita ngajak bersama orang lain. Demikian pula tidak benar saat kita harus bersama malah kita memilih sendiri. Tidak tepat misalnya, apalagi seorang pria muslim memilih shalat fardhu sendirian padahal pahala dan keutamaan shalat berjamaah jauh lebih baik. Atau saat harus sendiri di keheningan malam bersimpuh dan bermunajat kepada Allah malah kita memilih untuk bersama-sama dengan orang lain. Tentu tidak pas jadinya.

sumber: anonim. “Berjamaah atau Sendiri?”.

http://majalah-elfata.com/index.php?option=com_content&view=article&id=83:berjamaah-atau-sendiri&catid=1:edisi-oktober-2010&Itemid=109

Diakses pada tanggal 3 Juni 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: